RUANG UMAT – Kajian dan bedah buku Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits di Masjid Al-Furqan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Sabtu (3/10/2026), berkembang menjadi diskusi mengenai persoalan yang lebih luas dari sekadar penyebutan gelar Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
Forum yang menghadirkan Ustaz Adi Hidayat (UAH), Gus Ajir Ubaidillah, Gus Wafi, Ustaz Muhammad Nuruddin dan Ustaz Faris Baswedan tersebut membahas bagaimana umat semestinya menempatkan seorang tokoh berdasarkan kapasitas dan otoritas keilmuannya, sekaligus menghindari fanatisme terhadap figur tertentu.
Isu tersebut dinilai relevan di tengah derasnya potongan ceramah, kutipan buku dan perdebatan keagamaan di media sosial yang sering kali tidak disertai pembacaan referensi secara utuh.
UAH menjelaskan, buku yang dibahas disusun secara sistematis, mulai dari pengantar, pendahuluan, tujuh pembahasan utama hingga penutup. Materinya terlebih dahulu menguraikan hadis dan ilmu hadis, termasuk istilah muhaddits, musnid, hafiz dan bahitsul hadits, sebelum membahas profil serta metodologi Syaikh Al-Albani.
“Semua antarbab ini itu saling mengantarkan dan berhubungan satu dengan yang lainnya,” ujar UAH dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official.
UAH Soroti Wasiat Al-Albani
Salah satu bagian yang mendapat perhatian UAH adalah wasiat Syaikh Al-Albani sebelum wafat yang disebut tercantum dalam buku tersebut.
UAH menyoroti pesan Al-Albani agar para dai dan pembelajar tidak saling mengejek, merendahkan maupun mencaci dalam menyampaikan dakwah.
UAH kemudian mempertanyakan sejauh mana orang-orang yang mengaku mencintai Al-Albani juga menjalankan pesan tersebut.
Bagi UAH, perbedaan pandangan mengenai kapasitas keilmuan seorang tokoh semestinya tidak berubah menjadi permusuhan atau penghinaan.
Muhammad Nuruddin: Bedakan Gelar dan Kapasitas
Sementara itu, Ustaz Muhammad Nuruddin menyoroti penggunaan istilah muhaddits dan bahitsul hadits.
Dalam pemaparannya, Nuruddin mengutip pandangan Syaikh Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari yang disebut memiliki kritik terhadap kapasitas Al-Albani dalam bidang hadis.
Menurut Nuruddin, persoalan tersebut seharusnya ditempatkan sebagai pembahasan mengenai otoritas dan kapasitas keilmuan, bukan sebagai upaya merendahkan pribadi seorang tokoh.
Ia kemudian memberikan ilustrasi bahwa seseorang yang banyak membaca buku dalam bidang tertentu belum otomatis dapat disebut sebagai ahli dalam disiplin ilmu tersebut.
“Harus bisa cermat dalam menghormati kapasitas dan otoritas keilmuan,” kata Nuruddin.
Ia menekankan pentingnya proses belajar yang metodologis, memiliki guru dan berlangsung dalam waktu panjang sebelum seseorang menyandang gelar keilmuan tertentu.
Pesan untuk Tidak Terjebak Fanatisme
Gus Ajir Ubaidillah kemudian mengarahkan pembahasan pada pentingnya menjaga persaudaraan meski terdapat perbedaan pandangan.
“Ini adalah ikhtiar mengedukasi masyarakat agar tetap mau bersaudara meski ada perbedaan pandangan dan sikap,” ujarnya.
Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang mengecam fanatisme kelompok.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah forum: perbedaan dalam menilai seorang tokoh tidak semestinya berkembang menjadi fanatisme, saling mencaci atau memutus persaudaraan.
Dari Perdebatan Gelar ke Literasi Keislaman
Forum tersebut pada akhirnya tidak hanya membahas apakah Syaikh Al-Albani lebih tepat disebut muhaddits atau bahitsul hadits.
Diskusi justru mengarah pada persoalan bagaimana masyarakat membaca karya ulama, memahami metodologi keilmuan, mengenali otoritas akademik dan menempatkan perbedaan pendapat secara proporsional.
Hal ini menjadi semakin penting di era media sosial, ketika potongan video maupun kutipan singkat dapat dengan cepat membentuk persepsi publik tanpa konteks pembahasan yang lengkap.
Buku yang dibedah dalam kegiatan tersebut juga disebut dicetak melalui skema wakaf dan tidak diperjualbelikan. Untuk kegiatan di Bandung, sekitar 3.000 paket disiapkan bagi peserta, sementara total pencetakan direncanakan mencapai sekitar 7.000 eksemplar.
Dengan demikian, bedah buku di UPI tersebut menjadi ruang diskusi untuk menggeser perdebatan mengenai tokoh keagamaan dari sekadar perang label menuju pembacaan referensi, metodologi dan otoritas keilmuan secara lebih utuh.

Jadilah pembaca pertama yang ikut berdiskusi.