RUANG UMAT – Dalam kehidupan rumah tangga, talak atau perceraian merupakan salah satu hal yang paling dihindari. Islam memang tidak menutup pintu perceraian ketika kehidupan rumah tangga sudah berada pada kondisi yang sulit dan tidak lagi dapat dipertahankan. Namun, talak bukan perkara yang semestinya mudah diucapkan, terlebih ketika sedang diliputi emosi.

Ada sebuah hadis yang cukup masyhur di tengah masyarakat:

“Halal yang paling dibenci Allah adalah talak.”

Hadis tersebut diriwayatkan Abu Dawud no. 2180 melalui jalur Katsir bin Ubaid, dari Muhammad bin Khalid, dari Muarrif bin Washil, dari Muharib bin Ditsar. Namun, para ulama hadis menjelaskan bahwa riwayat tersebut berstatus dhaif (lemah).

Imam Al-Baihaqi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis tersebut merupakan hadis Abu Dawud yang diriwayatkan secara mursal. Adapun riwayat yang menyebutkan sanadnya bersambung kepada Abdullah bin Umar, menurut beliau, tidak dapat dipastikan keterjagaannya. (Sunan Al-Kubra 7/320; Sunan Ash-Shaghir no. 2786).

Meski hadis tersebut lemah, hal itu tidak berarti Islam mendorong perceraian. Sebaliknya, berbagai ajaran Islam menunjukkan pentingnya menjaga keutuhan keluarga, menyelesaikan perselisihan dengan cara yang baik, serta tidak menjadikan talak sebagai ancaman setiap kali terjadi pertengkaran.

Perceraian Menjadi Salah Satu Jalan yang Disukai Iblis

Ada hadis sahih yang menggambarkan betapa besar perhatian setan terhadap upaya memisahkan manusia, termasuk memisahkan pasangan suami istri.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian dia mengirim pasukannya. Setan yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang setan lainnya dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Iblis pun mendekatkannya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim no. 2813)

Hadis ini menunjukkan besarnya peran godaan setan dalam merusak hubungan manusia. Ketika hubungan suami dan istri retak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh keduanya. Anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkungan sekitar dapat ikut merasakan akibatnya.

Karena itu, perselisihan dalam rumah tangga perlu dihadapi dengan kehati-hatian. Jangan sampai kemarahan sesaat menghasilkan keputusan yang disesali seumur hidup.

Talak Bukan Senjata Saat Marah

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari dalam rumah tangga adalah menjadikan talak sebagai senjata untuk memenangkan pertengkaran.

Ketika emosi memuncak, seseorang bisa mengucapkan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Padahal, dalam persoalan talak, ucapan bukan perkara sepele. Karena itu, seorang Muslim hendaknya mampu menahan diri dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan ketika sedang marah.

Rumah tangga dibangun bukan karena suami dan istri tidak pernah memiliki masalah. Justru kehidupan berumah tangga menjadi tempat bagi keduanya untuk belajar bersabar, saling memahami, memaafkan kesalahan, dan mencari jalan keluar bersama.

Beberapa Pelajaran Penting

Ada sejumlah pelajaran yang dapat kita ambil dari pembahasan mengenai talak dan godaan untuk merusak rumah tangga.

Pertama, jangan menjadikan talak sebagai pilihan pertama

Ketika terjadi perselisihan, upayakan terlebih dahulu jalan perbaikan. Berikan waktu untuk menenangkan diri, lakukan komunikasi dengan baik, dan hindari keputusan besar ketika emosi sedang menguasai diri.

Kedua, bangun rumah tangga dengan iman dan kesabaran

Kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa bahagia, ada pula masa penuh ujian. Kesabaran, saling memaafkan, dan kesediaan untuk memperbaiki diri menjadi bekal penting agar keluarga tetap kokoh menghadapi berbagai persoalan.

Ketiga, waspadai godaan setan yang memicu perpecahan

Perselisihan yang awalnya kecil bisa menjadi besar ketika masing-masing pihak dikuasai amarah, prasangka, dan keinginan untuk saling menyakiti. Karena itu, seorang Muslim perlu menyadari bahwa menjaga keharmonisan keluarga juga merupakan bagian dari menjaga diri dari jalan-jalan yang disukai setan.

Keempat, libatkan Allah dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga

Doa, istighfar, musyawarah, dan nasihat dari orang-orang yang bijak dapat menjadi jalan untuk mencari solusi. Jangan menghadapi persoalan rumah tangga hanya dengan emosi dan ego masing-masing.

Talak Ada, tetapi Jangan Dipermudah

Islam tidak mengharamkan talak secara mutlak. Dalam kondisi tertentu, perceraian dapat menjadi jalan keluar ketika kehidupan rumah tangga sudah tidak mungkin dipertahankan dengan cara yang baik.

Namun, adanya pintu perceraian bukan berarti seorang Muslim boleh mempermainkan talak. Sebelum mengucapkannya, perlu ada pertimbangan yang matang dan upaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan.

Jangan sampai pertengkaran sesaat berujung pada keputusan yang menghancurkan kehidupan keluarga. Jangan pula menjadikan talak sebagai ancaman setiap kali keinginan tidak terpenuhi.

Semoga Allah menjaga rumah tangga kaum Muslimin, memberikan kesabaran kepada pasangan yang sedang menghadapi ujian, dan membimbing mereka untuk menyelesaikan setiap persoalan dengan cara yang diridhai-Nya.
Semoga Allah menjadikan keluarga kaum Muslimin sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)